//
you're reading...
Selingan

Menakar Kepekaan Pribadi

Pelajaran kehidupan mengatakan kepada kita bahwa simpati dan empati terhadap orang lain merupakan kekuatan terbesar yang membentuk peradaban hingga sejauh ini. Masih ingat tentang peristiwa Gempa dan Gelombang Tsunami di Aceh? Tentu anda masih ingat! Kejadian itu telah membuktikan kepada kita semua bahwa menyisihkan barang berharga kita tidak sebanding dengan penderitaan akan kehilangan keluarga dan sanak saudara. Hebatnya, hal itu dilakukan oleh orang sedunia, oleh bangsa-bangsa, oleh lembaga-lembaga internasional, oleh pemimpin-pemimpin dunia, dan oleh semua orang. Saya yakin anda termasuk diantaranya.

Pelajaran penting dari cuplikan peristiwa itu adalah nilai kemanusiaan tidak bisa dibatasi oleh hanya sekedar tali pembatas bernama negara, agama dan ras manusia. Semua itu dapat ditembus oleh nilai kemanusiaan bernama empati. Namun sayangnya, peristiwa itu juga membuktikan kepada kita bahwa pelajaran membantu dan meringankan sesama harus didahului setelah terjadinya sebuah tragedi bernama Tsunami. Lalu bagaimana jika tidak ada Tsunami? Masihkah umat manusia menerapkan nilai yang sama? Disinilah pentingnya nilai sensitiveness yang akan kita bahas ini.

Tolong sesama

Sensitiveness atau kepekaan memungkinkan kita melihat lebih dalam dari yang terlihat diluar. Kepekaan membuat kita mengerti penderitaan orang lain, tanpa orang tersebut harus mengalami penderitaan, tragedi, bencana yang sesungguhnya. Bayangkan kumbang yang memiliki sepasang antena. Tuhan melengkapi kumbang dengan antena yang sensitif untuk dua alasan, pertama, untuk mendeteksi adanya makanan disekitarnya, dan kedua, untuk mendeteksi adanya ancaman bahaya. Antena ini begitu sensitifnya hingga kumbang tidak memerlukan mata untuk melihat kedua tanda itu.

Sementara manusia dilengkapi oleh Tuhan sesuatu yang hampir berfungsi sama seperti antena pada kumbang. Antena ini bernama Heart. Atau Hati. Hati dilengkapi dengan perasaan sensitif. Pernahkah anda mendengar tentang Mata Hati? Jika mata fisik hanya bisa melihat luarnya, maka Mata Hati bisa melihat lebih dalam lagi. Sesuatu yang tidak terlihat. Sesuatu yang tidak bersifat materi. Sesuatu yang dapat dirasakan. Itulah kenapa orang buta bisa merasakan lebih jelas dari orang normal. Itu karena mata hati mereka begitu terlatih.

Dalam kehidupan yang lebih mikro, yaitu perseorangan, sensitivitas membantu kita menemukan sisi kemanusiaan dalam diri. Sensitif atau perasaan peka lah yang memulai tumbuhnya empati.
Kadar sensitivitas tiap orang berbeda, itu sudah jelas!. Ada orang yang sangat sensitif, namun ada orang yang kurang sensitif. Semakin sensitif, semakin mudah melihat ada yang salah dengan lingkungan kita. Namun, kadar volume sensivitas bergantung pada emosi, dan kondisi yang dialami seseorang dalam suatu waktu. Contoh, orang akan lebih merasakan sensitif dalam keadaan tenang dan tidak tertekan, atau orang akan lebih sensitif melihat penderitaan orang lain ketika lebaran. Itu wajar dan masih baik, daripada tidak sama sekali bukan?!.

Namun, yang paling baik dari itu semua adalah orang yang dapat menjaga sensitivitasnya tanpa terpengaruh emosi dan lingkungan. Dia mampu menyentuh nilai kemanusiaan dalam hatinya kapanpun setiap kali melihat kekurangan dan penderitaan orang lain. Dia mampu, melihat kesediahan orang lain, meskipun orang tersebut tidak menunjukkannya. Dia mampu membaca yang tersirat, karena mata hatinya begitu tajam melihat apa yang ada didalam, bukan diluar.
Pernahkah anda menerima ungkapan perasaan dari kawan anda seperti, “Apa yang bisa kubantu?” padahal anda tidak pernah meminta bantuannya. Atau, “Kelihatannya ada sesuatu yang membebanimu, mau berbagi?”. Atau, “Santai aja, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Percaya deh!”. Itu semua adalah ungkapan sensitivitas.

Dan bersyukurlah jika itu terjadi, berarti anda berada dilingkungan yang tepat. Tidak semua orang bisa seberuntung anda.

Lebih hebat lagi jika anda yang melakukannya kepada kawan anda. Dan ketika itu terjadi, anda sudah tidak memerlukan tulisan ini lagi.

About akhuna

Enterpreneur, IT Consultant, Student of ITS Surabaya and Kumamoto University, and a Father of a happy family.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: