//
you're reading...
Selingan

Being Ordinary

ss26032.jpg

Tuhan menciptakan manusia dengan kadar dan ketentuan yang berbeda. Tidak ada manusia yang sama persis, meskipun keduanya dilahirkan kembar. Maka itu, potensi yang dimiliki manusia satu dengan lainnya pasti berbeda. Ada orang yang dengan potensinya dapat menjadi orang sukses, orang hebat, orang besar dan julukan indah lainnya.

Seperti kebanyakan orang, aku pun ingin menjadi seperti mereka, tokoh-tokoh besar yang kukagumi. Aku selalu meyakini dalam setiap detik kehidupanku bahwa suatu saat aku akan menjadi besar dan hebat. Setiap orang pasti punya cita-cita, dan inilah cita-citaku.

Namun, seperti juga yang lain. Ada yang sukses meraih cita-cita dan banyak juga yang gagal. Persoalannya adalah, bagaimana jika aku tidak menjadi orang besar namun hanya orang kebanyakan. Apakah hidupku akan hancur? Apakah dengan menjadi orang biasa hidup menjadi tidak bermakna?

Pertanyaan yang cukup menggelitik bukan? Sementara diluar sana jutaan orang mendambakan hidup sukses, menjadi terkenal, kaya, punya jabatan tinggi dan parameter sukses lainnya. Bertolak dari itulah mereka berusaha sekuat tenaga dan berkorban, tidak sedikit yang menempuh segala cara. Jika tidak tercapai, ada beberapa orang yang tidak sedikit jumlahnya akhirnya menjadi frustasi dan stress dibuatnya. But, what’s wrong with being ordinary?

Coba kau pikir!. Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan. Itu pasti! Pernahkah terlintas dalam pikiranmu, bahwa orang hebat juga punya kekurangan seperti halnya kita. Persoalannya, kekurangan dan kelemahan mereka tidak pernah tampak nyata dihadapan kita. Padahal, jika kita teliti, seringkali mereka tersiksa dengan keadaan mereka yang serba berkecukupan.

Tidak!. Menjadi orang biasa adalah anugrah yang Allah berikan dalam bentuk kebiasaan dan kesederhanaan. Bukannya tidak bermakna. Itulah yang Allah berikan sesuai kebijaksanaan dan proporsionalitas masing-masing.

Yang membedakan antara orang besar dengan orang biasa ‘hanya’ masalah dicatat atau tidak. Orang besar, setiap aktivitasnya diketahui banyak orang. Sementara orang biasa, tidak. Namun keduanya memiliki nilai keberkahan yang sama dihadapan Allah Sang Pencipta. Bahkan, sangat mungkin, dengan menjadi orang biasa kita dapat lebih mudah dalam menjaga keikhlasan dalam setiap amal dan ibadah kita daripada orang tidak biasa.

Semoga analogi ini bisa membantu. Kita sering menghafalkan nama penemu-penemu besar dalam sejarah seperti Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Wright bersaudara dan masih banyak lagi. Namun, adakah diantara kita yang tahu siapa penemu sendok, garpu, papan tulis, pulpen, buku, piring, kasur, jam dan barang-barang ‘remeh’ lainnya. Pernahkah anda merasakan kesusahan yang amat besar ketika barang-barang ‘remeh’ tadi tidak ada bersama anda?. Bukankah benda-benda itu sangat berarti dikehidupan kita? Kalau begitu, bukankah penemunya adalah orang yang berjasa bagi kehidupan kita? Tapi, penemunya hanyalah orang biasa yang tidak dikenal sebagaimana orang mengenal Einstein. Namun demikian, meskipun ia tidak mendapatkan kejayaan, tapi ia telah mampu menyumbangkan buah karyanya bagi kelangsungan hidup manusia.

Alangkah indahnya jika kita mampu menjadi orang biasa yang bisa memberi tanda kehidupan dengan hasil karya kita. Meskipun orang tidak mengenal dan mencatat kita. Namun, Allah tidak henti melihat dan mencatat setiap amal dan ibadah kita.

Suatu saat ada orang Indonesia datang ke Inggris. Pada saat yang genting dan diburu waktu dia harus mendapatkan tiket kereta bawah tanah. Namun sayang, ketika sampai diloket tiketnya sudah habis. Tapi kemudian tanpa diduga si petugas loket bertanya, “Anda dari Asia?”.

“Betul, saya dari Asia, tepatnya Indonesia”, jawab orang ini.

“Oh, Indonesia, I love that country!. Ini, saya beri anda tiket tambahan karena anda dari Indonesia”.

Si orang Indonesia bingung bukan kepalang, akhirnya dia bertanya, “Why did yo do this?” Kenapa anda melakukannya?.

“Karena dulu ketika saya pernah akan tenggelam di laut Kuta, saya ditolong oleh orang Indonesia sehingga saya bisa selamat sampai sekarang”.

Cuplikan cerita sederhana ini semoga mampu menginspirasi kita. Si penolong itu adalah orang biasa. Apa yang dilakukannya tidak pernah dicatat oleh koran ataupun sejenisnya, bahkan si penjaga loket pun juga tidak tahu namanya. Namun, apa yang telah dilakukannya, telah memberikan jalan dan kemudahan bagi orang lain yang amat jauh dan tidak dikenalnya. Orang Indonesia yang ada di Inggris ini pun akhirnya mendapat berkah atas apa yang telah dilakukannya. Bagi saya, dia adalah pahlawan, tapi dia tetap orang biasa.

Bukannya tidak optimis. Hanya meluruskan wacana yang salah.

Jadi, jika aku tidak bisa menggapai tempat tertinggi sebagai orang besar dan hebat, maka aku akan berbahagia menjadi orang biasa.

About akhuna

Enterpreneur, IT Consultant, Student of ITS Surabaya and Kumamoto University, and a Father of a happy family.

Diskusi

4 thoughts on “Being Ordinary

  1. biasa dan luar biasa, itu pihan.
    sama halnya lain2nya
    bahkan saat bangun tidur pun, kita sudah dihadapkan pada pilihan😀

    Posted by dianika | Desember 29, 2007, 10:34 am
  2. biasa dan luar biasa, itu pihan.
    sama halnya lain2nya
    bahkan saat bangun tidur pun, kita sudah dihadapkan pada pilihan😀
    nggak nyambung ya .. he he he

    apapun, Nang..
    aku pun bangga sempat kenal dengan sampean..
    punya semangat
    yang itu jadi harta demikian berharga..
    karena dengan tetap menggenggamnya, kita bisa tetap survive..

    Keep it…!!😀

    Posted by dianika | Desember 29, 2007, 10:36 am
  3. biasa dan luar biasa itu sebenarnya sama saja tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.

    Seorang ibu rumah tangga dikatakan biasa, tapi ada pula yang mengatakan profesi mulia dan luar biasa. Maka disini berlaku hukum relativitasnya mbah Einstein. Tambah ga nyambung ya…:)

    Posted by akhuna | Januari 2, 2008, 5:39 am
  4. Hmm.. posting menarik.

    Akan sangat berbahaya jika keluarbiasaan seseorang diukur dari seberapa banyak pers dan buku catatan sejarah yg mencatat tentangnya. Jika ukurannya adalah sebatas seberapa jauh itu bisa memberikan sumbangsih pada umat manusia, bukankah seluruh liputan dan popularitas itu tidak diperlukan.

    Ya seperti yg disampaikan di gagasan posting ini; tidak perlu jadi terkenal untuk jadi luar biasa. Keduanya adl perihal yg berbeda dan tidak wajib untuk disatukan.
    🙂

    Posted by Guntar | Januari 30, 2008, 3:32 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: